Adhitya Pratama Yusuf
Fase kota Yogyakarta dimulai tanggal 19 Januari 2013. Dalam fase kota ini, saya tinggal bersama keluarga bapak Bambang Januari. Keluarga ini beranggotakan empat orang, dimana kedua anak Pak Bambang perempuan, Dyah dan Intan. Keluarga ini tinggal di daerah yang dekat dengan tugu Yogyakarta di pusat kota, sehingga mudah untuk dicapai. Keluarga ini sangat hangat menyambut keberadaan kami di sini, kami sering berbagi cerita, terutama dengan Dyah. Rupanya Dyah yang pertama kali tertarik menjadi host family AIYEP, setelah melihat pengumuman di situs UGM, tempat Dyah belajar. Dyah tertarik dengan Australia dan ingin melatih kemampuan bahasa inggrisnya. Kami cukup banyak menghabiskan waktu bersama dengan Dyah dan Intan. Pada minggu pertama kami diajak ke sebuah petshop dimana Dyah sering menghabiskan waktu untuk belajar. Dyah memang belajar di Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Saya, Luke, Dyah dan Intan juga pergi ke bioskop untuk menonton film ‘Habibie dan Ainun’, dan setelah itu berbincang-bincang di kafe. Selain itu juga kami menonton Intan yang bertanding basket untuk tim sekolahnya (SMAN 1 Yogyakarta). Setiap harinya, keluarga ini sudah memulai aktivitas sejak pagi hari. Ibu sudah berangkat sejak pukul enam, karena Ibu mengajar di sekolah yang cukup jauh. Bapak dan Intan sudah harus berangkat pukul tujuh. Dyah kebetulan saat ini sedang dalam masa ujian, sehingga tidak harus ke kampus pagi. Pagi hari saya biasanya mengantarkan Luke yang bekerja di perpustakaan kota. Saya menghabiskan pagi di rumah, karena mulai bekerja di siang hari.
Work placement saya pada fase ini di Lembaga Anak Wayang Indonesia(AWI), sebuah lembaga yang bergerak dalam pemenuhan hak asasi anak, melalui metode bermain sambil belajar. Counterpart kerja saya adalah James. Kebetulan selain saya dan James ada juga mahasiswa Belanda yang sedang magang di Awi, sehingga kami bisa bekerja sama. Setiap harinya kami kerja dari pukul 13.00-17.00. selama tinggal 20 hari di Yogyakarta, kami hanya mendapatkan 7 hari efektif untuk bekerja. Dalam waktu singkat itu saya berusaha untuk bisa memberikan sesuatu di tempat kerja ini. Kegiatan yang utama setiap harinya adalah mengajar anak-anak di kampung sekitar Kali Code. Ada tiga kampung yang menjadi wilayah pengajaran AWI. Saya dan James mendapat tugas untuk membuat satu hari pengajaran dengan menggunakan metode pengajaran berdasarkan pengalaman kami sebelumnya. Saya mengaplikasikan ilmu kebencanaan yang saya miliki disini, karena saya memang punya beberapa pengalaman mengajar pendidikan bencana di sekolah. Saya mengajarkan berbagai jenis dan karakteristik bencana serta bagaimana cara menghadapinya. Ada hal yang berbeda antara mengajar di sekolah dan mengajar di kampung, dimana anak-anak disini harus bisa dikondisikan sedemikian rupa karena tidak terikat dan tidak boleh memaksa. Selain itu juga karena waktu mengajar disini dilakukan pada sore hari, maka jumlah anak yang datang tidak bisa diprediksi. Ini menjadi tantangan tersendiri dan pengalaman berharga buat saya.
Kegiatan lainnya dalam fase kota ini juga bervariasi. Setiap hari selalu ada kegiatan, baik itu kegiatan program maupun kegiatan intern dari grup. Hari-hari yang padat ini saya rasa cukup menyenangkan. Setiap hari Senin selalu ada school visit dari pagi hingga siang yang dilanjutkan dengan latihan Cultural Performance(CP). Adik AIYEP juga ada di fase ini, dilakukan pada tanggal 3 Februari 2013 di SMP 5 Yogyakarta. Selain itu juga selalu ada latihan CP tambahan di akhir minggu, cukup menyita waktu dengan keluarga, tapi bisa harus bisa disiasati. Acara grup juga beberapa kali kami lakukan, seperti bermain futsal dan barbecue bersama-sama. Futsal sangat menyenangkan karena semua orang bisa bermain, tidak hanya yang laki-laki, partisipan perempuan juga ikut bergabung. Saya rasa kebersamaan kami begitu terasa setiap kali bermain futsal. Semua orang terlihat senang. Barbecue saat itu kami lakukan di tempat kerja saya di AWI. Kami bersama dengan local committee PCMI Jogja makan siang sate dan daging bakar. Waktu tiga minggu di Yogyakarta berjalan sangat cepat karena selalu ada kegiatan dan saya menikmatinya. Kami semua kembali ke jakarta pada tanggal 7 Februari 2013. Namun sebelumnya, kami memiliki farewell performance pada tanggal 6 Februari 2013 di MMTC. Pertunjukan ini terasa berbeda karena ada satu penampilan spesial yang disiapkan khusus kolaborasi Australia-Indonesia, yaitu sendratari “Sewandana Palakrama”.




















