Catatan Fase Kota: Yogyakarta

Adhitya Pratama Yusuf

Fase kota Yogyakarta dimulai tanggal 19 Januari 2013. Dalam fase kota ini, saya tinggal bersama keluarga bapak Bambang Januari. Keluarga ini beranggotakan empat orang, dimana kedua anak Pak Bambang perempuan, Dyah dan Intan. Keluarga ini tinggal di daerah yang dekat dengan tugu Yogyakarta di pusat kota, sehingga mudah untuk dicapai. Keluarga ini sangat hangat menyambut keberadaan kami di sini, kami sering berbagi cerita, terutama dengan Dyah. Rupanya Dyah yang pertama kali tertarik menjadi host family AIYEP, setelah melihat pengumuman di situs UGM, tempat Dyah belajar. Dyah tertarik dengan Australia dan ingin melatih kemampuan bahasa inggrisnya. Kami cukup banyak menghabiskan waktu bersama dengan Dyah dan Intan. Pada minggu pertama kami diajak ke sebuah petshop dimana Dyah sering menghabiskan waktu untuk belajar. Dyah memang belajar di Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Saya, Luke, Dyah dan Intan juga pergi ke bioskop untuk menonton film ‘Habibie dan Ainun’, dan setelah itu berbincang-bincang di kafe. Selain itu juga kami menonton Intan yang bertanding basket untuk tim sekolahnya (SMAN 1 Yogyakarta). Setiap harinya, keluarga ini sudah memulai aktivitas sejak pagi hari. Ibu sudah berangkat sejak pukul enam, karena Ibu mengajar di sekolah yang cukup jauh. Bapak dan Intan sudah harus berangkat pukul tujuh. Dyah kebetulan saat ini sedang dalam masa ujian, sehingga tidak harus ke kampus pagi. Pagi hari saya biasanya mengantarkan Luke yang bekerja di perpustakaan kota. Saya menghabiskan pagi di rumah, karena mulai bekerja di siang hari.

Hostfam Yogyakarta (ki-ka) : Intan, Dyah, Luke, Adhit

Hostfam Yogyakarta (kiri-kanan) : Intan, Dyah, Luke, Adhit

Work placement saya pada fase ini di Lembaga Anak Wayang Indonesia(AWI), sebuah lembaga yang bergerak dalam pemenuhan hak asasi anak, melalui metode bermain sambil belajar. Counterpart kerja saya adalah James. Kebetulan selain saya dan James ada juga mahasiswa Belanda yang sedang magang di Awi, sehingga kami bisa bekerja sama. Setiap harinya kami kerja dari pukul 13.00-17.00. selama tinggal 20 hari di Yogyakarta,  kami hanya mendapatkan 7 hari efektif untuk bekerja. Dalam waktu singkat itu saya berusaha untuk bisa memberikan sesuatu di tempat kerja ini. Kegiatan yang utama setiap harinya adalah mengajar anak-anak di kampung sekitar Kali Code. Ada tiga kampung yang menjadi wilayah pengajaran AWI. Saya dan James mendapat tugas untuk membuat satu hari pengajaran dengan menggunakan metode pengajaran berdasarkan pengalaman kami sebelumnya. Saya mengaplikasikan ilmu kebencanaan yang saya miliki disini, karena saya memang punya beberapa pengalaman mengajar pendidikan bencana di sekolah. Saya mengajarkan berbagai jenis dan karakteristik bencana serta bagaimana cara menghadapinya. Ada hal yang berbeda antara mengajar di sekolah dan mengajar di kampung, dimana anak-anak disini harus bisa dikondisikan sedemikian rupa karena tidak terikat dan tidak boleh memaksa. Selain itu juga karena waktu mengajar disini dilakukan pada sore hari, maka jumlah anak yang datang tidak bisa diprediksi. Ini menjadi tantangan tersendiri dan pengalaman berharga buat saya.

Kegiatan Anak Wayang Indonesia

Kegiatan Anak Wayang Indonesia

Kegiatan lainnya dalam fase kota ini juga bervariasi. Setiap hari selalu ada kegiatan, baik itu kegiatan program maupun kegiatan intern dari grup. Hari-hari yang padat ini saya rasa cukup menyenangkan. Setiap hari Senin selalu ada school visit dari pagi hingga siang yang dilanjutkan dengan latihan Cultural Performance(CP). Adik AIYEP juga ada di fase ini, dilakukan pada tanggal 3 Februari 2013 di SMP 5 Yogyakarta. Selain itu juga selalu ada latihan CP tambahan di akhir minggu, cukup menyita waktu dengan keluarga, tapi bisa harus bisa disiasati. Acara grup juga beberapa kali kami lakukan, seperti bermain futsal dan barbecue bersama-sama. Futsal sangat menyenangkan karena semua orang bisa bermain, tidak hanya yang laki-laki, partisipan perempuan juga ikut bergabung. Saya rasa kebersamaan kami begitu terasa setiap kali bermain futsal. Semua orang terlihat senang. Barbecue saat itu kami lakukan di tempat kerja saya di AWI. Kami bersama dengan local committee PCMI Jogja makan siang sate dan daging bakar. Waktu tiga minggu di Yogyakarta berjalan sangat cepat karena selalu ada kegiatan dan saya menikmatinya. Kami semua kembali ke jakarta pada tanggal 7 Februari 2013. Namun sebelumnya, kami memiliki farewell performance pada tanggal 6 Februari 2013 di MMTC. Pertunjukan ini terasa berbeda karena ada satu penampilan spesial yang disiapkan khusus kolaborasi Australia-Indonesia, yaitu sendratari “Sewandana Palakrama”.  

sewandana palakrama

Sermo Festival

Toby Evans

Here at AIYEP, we know how to put on a show. No quiet, casual event for us, no siree, if we were going to put on a festival, it had to be HUGE!

After a massive organising effort by the AIYEPers, especially our Festival Coordinators, Muhammad Maulidin and Ashleigh Moreton, the Sermo festival came together successfully on the 5th and 6th of January 2013.

By way of thanks to our community, we decided to spend the first day holding some fun and games for local families. We kicked off the festival with a drawing contest for children. Most of the AIYEPers tried their hand, but were thoroughly outshone by the talented youngsters.

Image

Hambar and Tarryn with local kids at the drawing contest / Hambar dan Tarryn sama anak-anak lokal di lomba menggambar

Image

Toby lends his expertise to a local child in the drawing contest (they still didn’t win)/ Toby meminjamkan keahliannya kepada seorang anak lokal dalam lomba menggambar (mereka masih tidak menang).

The kids then went off for a game of ‘lari kelereng’, the Indonesian version of an egg and spoon race, and a slightly less than healthy game known as ‘mengigit coin’ (it involves a handful of coins, a tray full of flour and water, and your face – Fun!) . Meanwhile, local Ibus hit the D-floor for some aerobics and dancing.

Image

The tray for mengigit coin…yum!/ kotak untuk ‘mengigit koin’… enak!

The main event was Sunday, when the real festival got underway. A food fair, featuring a selection of traditional fare prepared by local ladies, and a ‘jamu’ (traditional Javanese medicine) stand, were set up to serve refreshments to hungry visitors and showcase local products. We also took the opportunity to show off some of our community development projects, like ‘English with Tourists’ brochures, new packaging for local products, and a stall for the master screen printers we had taught.

Image

The food fair

Image

 ‘English with Tourists’ brochures, free at the festival

Meanwhile, visitors were entertained by our charismatic MCs Hambar and Aking, a variety of cultural performances by the AIYEPers (including a jatilan flash mob), and a fishing contest.

Image

The Indonesian AIYEPers perform

The Sermo Festival was met with some of the highest media attention in AIYEP history, with a television report appearing on the national news and an article in the newspaper, Tribun Jogja. The national news described our dancing as ‘stiff’, but hey, any publicity is good publicity. They’ll be eating a slice of humble pie after our city phase finale!

Over a quiet ‘dingin’ (cold drink) at a local warung later. someone remarked “that went well”. Fifteen hundred visitors and a national TV report later – Yep, I agree.

Versi bahasa Indonesia:

Dalam AIYEP, kami selalu ada penampilan yang luar biasa. Kami tidak mau acara yang tenang dan kecil –  jika kita akan menadakan sebuah festival, itu harus besar!

Setelah upaya besar dari AIYEP, terutama Koordinator- Koordinator Festival kami, Muhammad Maulidin dan Ashleigh Moreton, festival Sermo diadakan dengan sukses pada tanggal 5 dan 6 Januari 2013.

Untuk berterima kasih kepada masyarakat kami, kami memutuskan kami akan memakai hari pertama untuk mengadakan beberapa permainan untuk keluarga-keluarga di Sermo dan Suko. Kami mulai festival dengan lomba menggambar untuk anak-anak. Sebagian besar para peserta AIYEP ikut serta, tetapi anak-anak di lomba itu jauh lebih berbakat.

Anak-anak kemudian pergi untuk bermain ‘lari kelereng’, dan ‘mengigit koin ‘.

Acara utama adalah pada hari Minggu, ketika festival yang sebenarnya mulai. Ada warung-warung makanan dengan makanan tradisional dimasak oleh ibu-ibu lokal, dan sebuah warung jamu – untuk menjual minuman dan makanan kepada pengunjung lapar dan menampilkan produk lokal. Kami juga mengambil kesempatan untuk memamerkan beberapa proyek pembangunan komunitas kami, seperti brosur ‘Bahasa Inggris dengan wisatawan’ kami, bungkus-bungkus baru untuk produk lokal, dan sebuah kios untuk ahli-ahli sablaon lokal yang kami diajarkan.

Sementara itu, pengunjung dihibur oleh MC-MC kami yang karismatik, Hambar dan Aking, berbagai pertunjukan budaya oleh AIYEPers (termasuk ‘flash mob’ Jatilan), dan lomba memancing kami.

Festival Sermo menerima perhatian media tertinggi dalam sejarah AIYEP, termasuk laporan di berita nasional dan satu artikel dalam Tribun Jogja. Berita nasional  menggambarkan tarian-tarian kami sebagai ‘kaku’, tapi, publisitas apa saja adalah publisitas yang baik. Mereka akan mengubah pikiran mereka hati setelah penampilan terakhir kami dalam fase kota!

Sambil kami beristirahat di warung lokal kemudian festival itu, seseorang mengatakan “Festival itu berjalan dengan baik”. Setelah seribu lima ratus pengunjung dan laporan TV nasional – Ya, aku setuju.

Lets Do Business

Mellissa Andayani

Ketika kami menginjakkan kaki kami ke Desa Hargowilis, Dusun Sermo-Soka. Kami bertemu dengan keluarga angkat kami dan siap memulai aktivitas kami yang baru. Kami berkeliling desa melihat potensi yang ada dan juga menjaring aspirasi masyarakat disana. Kami mulai berpikir bahwa dengan potensi alam sangat indah seharusnya desa wisata ini bisa terkenal.

Ada berbagai industri rumahan di desa tersebut. Ikan krispi, jamu tradisional, gula merah, gula kristal semua ada disini. Sayangnya, belum terpasarkan dengan baik.

Saya dan tim life skill berembug untuk membuat kegiatan pelatihan untuk warga sekitar sesuai dengan keinginan mereka. Berdasarkan aspirasi, mereka ingin memilliki merchandise khas Sermo. Yap, kami fasilitasi mereka dengan pelatihan sablon.

Kami sengaja memproyeksikan pelatihan ini kepada pemuda karangtaruna. Mengingat mereka masih muda dan semangat mereka masih segar. Kami datangkan pelatih dari Yogyakarta untuk mengajarkan mereka membuat sablon kaos. Pelatihan berdurasi 6 jam di secretariat. Dihadiri oleh pemuda desa serta warga sekitar. Mereka nampak antusias mengikuti pelatihan. Mereka pun berhasil membuat kaos karya mereka sendiri.  Karya pemuda-pemuda akan dijual di AIYEP Festival. Sehingga selain praktek memproduksi, mereka juga praktek menjual secara langsung.

Karang Taruna Produced Screen Printed T-Shirts ;)

Karang Taruna Produced Screen Printed T-Shirts ;)

Kaos dijual seharga 45.000 dan topi dijual seharga 20.000. Kurang dari tiga jam mereka mampu menghasilkan uang lebih dari 3 juta rupiah.  Kami mengajarkan bagaimana mereka promosi bisnis tanpa terkesan menggurui dan terus memotivasi mereka untuk berkarya. Kami kemas semuanya secara learning by doing dan fun.

Mereka sangat senang sekali. Selain mampu menghasilkan uang sendiri, mereka senang bahwa banyak komunitas merespon dengan baik usaha mereka. Salah satunya komunitas sepeda gunung.

Sampai saat ini mereka masih tetap produksi merchandise khas anak-anak Sermo.

Selalu ada jalan bagi yang mau berusaha dan memulai. Terus melangkah jangan pernah berhenti.

Mellissa

English Version:

After arriving in Hargowilis and meeting our host families, and were eager to get moving with our community development activities. We toured the village to assess its potential and discuss the aspirations of the people there. It was immediately obvious that the village had a significant untapped resource in its natural beauty and its developing tourist industry. Further, we noted that there are a variety of underutilized cottage industries in the village; like the production of crispy fish chips, traditional herbal medicine, palm sugar (otherwise known as ‘gula jawa’), and crystallized sugar. Unfortunately, these products are poorly marketed, and bring in less income than they should.

In our discussions, the community expressed a desire for some distinctive merchandise which could be sold to tourists who visited Sermo village. This led AIYEP’s ‘life-skills’ team to hold some screen printing classes to teach local people how to make Sermo t-shirts and hats.

These classes were deliberately tailored toward the local youth, and were well attended by enthusiastic participants. The classes lasted for around 6 hours and were facilitated by coaches from Yogyakarta we had brought in. After some practice, our budding screen printers were able to make T-shirts and hats of their own, which were sold at the AIYEP/Sermo Festival. This meant that, as well as learning how to make the shirts and hats, the young people also got experience selling their merchandise to people directly.

T-shirts sold for 45,000 rupiah (~$4.50 AUD) and hats for 20,000 rupiah (~$2 AUD) at the Sermo festival. In less than three hours the young screen printers brought in more than 3 million rupiah (~$300 AUD).

We tried to teach these young people how to start and manage a business, as well as motivating them to get involved through ‘hands on’ teaching and fun. We were very satisfied with the overwhelmingly positive reaction we received from the young screen printers. Besides being able to make money themselves, they were pleased that the community as a whole responded well to their efforts.

The production of Sermo t-shirts has continued, even after our departure from the village.

There is a road to success available for everyone, just keep trying and never give up!

Coretan Perjalanan Mid Visit Break! Yeay, Liburan!

Toby Evans

Mengucapkan salam perpisahan dengan keluarga angkat dan masyarakat kami di Sermo,kami bersiap untuk berangkat liburan. Destinasi pertama – Candi Borobudur di Jawa Tengah.

AIYEPers di Borobudur, Yogyakarta eh Jawa Tengah :D

AIYEPers di Borobudur, Yogyakarta eh Jawa Tengah :D

Kemudian, kita pergi ke Solo. Kami menginap di kota ini selama sehari. Di sana,beberapa peserta AIYEP pergi ke waterpark, beberapa membeli oleh-oleh di pasar antik, dan beberapa hanya mau beristirahat di hotel.

Vivi, Sarah, Acut, Sri pose di depan pasar antik

Vivi, Sarah, Acut, Sri pose di depan pasar antik

AIYEPers naik kereta tua :D

AIYEPers naik kereta tua :D

Kami juga mampir ke Ambarawa untuk menaiki kereta tua di musium kereta api. Senang sekali !. Pergi ke grojogan sewu menikmati panorama air terjun di Kabupaten Karanganyar. Liburan yang menyenangkan. Hati bahagia, kami bersiap untuk memasuki fase terakhir kami yaitu fase kota.

Terima kasih mas Abe, sudah mengatur perjalanan liburan kami yang luar biasa.

Learning Language From Another Point of View

Candice Slingerland

Selama tinggal kami di Waduk Sermo, saya berkesempatan untuk bekerja sama dengan orang-orang berbakat di bidang pendidikan . Kami, divisi pendidikan memiliki proyek pengembangan masyarakat yaitu menyelenggarakan klub bahasa Inggris yang diadakan selama 3 minggu, dan kami juga mengadakan program ‘Adik AIYEP’ yang pertama di Indonesia. Kedua kegiatan ini terjadi di SMP 2 Kokap, sekitar 5 kilometer dari Waduk Sermo.

school

Toby dan Luke di SMP 2 Kokap

Pada setiap kunjungan kami ke sekolah, setiap peserta AIYEP tampak profesional dalam seragam mereka. Tak lupa dengan senyuman  manis kami di setiap perjalanan.

bus

Ketika pertama kali kami di sekolah, aku agak terkejut. Dalam pengalaman saya sebagai guru bahasa di Australia, saya sering berurusan dengan remaja yang riuh. Namun, setelah kami tiba di sekolah ada beberapa siswa dan orang-orang yang ada sangat pemalu.Pada Klub Inggris, kami memperkenalkan diri, tapi masih ada kesulitan berinteraksi dengan para murid karena mereka sangat malu. Kami mengatasi rintangan ini dengan permainan asyik, menyanyikan lagu, dan benar-benar mendengarkan apa yang para murid yang tertarik, termasuk aspirasi karir mereka.

teaching

Jack and Cordell teach at English Club

Adik AIYEP

Adik AIYEP Program diadakan pada tanggal 3 Januari, setengah jalan melalui kami tinggal di daerah Sermo waduk. Program ini dirancang untuk mendorong siswa baik di Indonesia dan Australia untuk melanjutkan studi bahasa mereka dalam rangka untuk memperkuat hubungan antara kedua negara. Para siswa adalah masa depan kita dan hubungan negara berada di tangan mereka.

Para peserta Indonesia tahun ini memulai program Adik AIYEP selama mereka tinggal di Melbourne dan Benalla, Victoria. Di Kulon Progo dan Jogjakarta, kami  menjalankan sesi yang sama. Selama program Peserta AIYEP menambilkan pertunjukan budaya mereka, serta kelompok-kelompok diskusi tentang Budaya Australia dan kesempatan pada masa depan jika mereka melanjutkan studi bahasa Inggeris. Pada saat ini, para siswa didorong untuk bergabung dengan grup facebook Adik AIYEP dan beberapa peserta dan siswa bertukar nomor telepon. Di Jogjakarta kita juga akan mengadakan program Adik AIYEP.

teaching 2

Aking dengan murid-murid

Setelah itu…

English Club terakhir kami diadakan pada tanggal 7 Januari, dan kami menikmati sekali.   Kami telah tmengadakan tiga sesi dan semua berhasil. Kemudian siswa disajikan dengan sertifikat sebelum  mereka menyanyi lagu-lagu dalam bahasa Inggris.

Saya merasa bahwa waktu kita di Kulon Progo telah sukses, terutama di klub Inggris dan melalui program AIYEP Adik. Sesi terbesar kami adalah 130 siswa dari SMP2 Kokap dan sekolah dari daerah sekitarnya. Saya menerima pesan teks dari salah satu siswa yang menyatakan bahwa dia benar-benar menikmati program dan bahwa dia mencintai belajar bahasa Inggris. Ini adalah persis mengapa kita mengadakan program –program seperti English Club dan Adik AIYEP, untuk mendorong murid-murid untuk menikmati belajar bahasa kedua atau bahkan ketiga.

English version:

 During the AIYEP 2012-2013 participants’ stay in Waduk Sermo, I have had the privilege to work with some very talented people in the education sphere. While we have been here, AIYEP organised an English Club that was held over 3 weeks and held the inaugaral ‘Adik AIYEP’ program in Indonesia. Both of these activities took place at SMP 2 Kokap, approximately 5 kilometres out of Waduk Sermo.

When we were first greeted at the school, I was somewhat surprised. In my experience as a language teacher in Australia, I am used to boisterous teenagers making a lot of noise in the school yard.  However, as we arrived at the school there were few students and those who were there were very shy. During the first English Club, we introduced ourselves, but we found it difficult to interact with these students as they were quite shy. We overcame this hurdle by playing games, singing songs, saying silly things about ourselves and really listening to what these students were interested in, including their career aspirations.

Adik AIYEP

The Adik AIYEP program was held on the 3rd of January, halfway through our stay in the Waduk Sermo area. This program is designed to encourage students in both Indonesia and Australia to continue their language studies in order to strengthen the relationship between these neighbouring countries. After all, these students are our future and the relationship of our countries will one day be in their hands.

The Indonesian participants this year started the Adik AIYEP program during their stays in Melbourne and Benalla, Victoria. In Kulon Progo and Jogjakarta, we will be running similar sessions. Throughout the program the AIYEP Participants showcased their cultural performances (which the students particularly enjoyed) as well as held discussion groups about Australian Culture and what opportunities are open to them in the future if they continue with their language studies. At this point, the students were encouraged to join our Adik AIYEP facebook page and some of the participants and students exchanged phone numbers. In Jogjakarta we will also be running another Adik AIYEP program, so watch this space and I will update our progress with this brand new program.

Then….

Our final English Club was held on Monday 7th January and what fun we had. Our shy students from the beginning were gone and some of the participants had their names yelled out by the students as they were excited to see us. We ran 3 sessions on this occasion that were all successful. Then the students were presented with certificates before performing songs in English. We closed off our final English Club hand in hand as we did a giant Hokey Pokey circle.

I feel that our time in Kulon Progo has been a success, especially in the English Club and through the Adik AIYEP program. Our largest session was 130 students from SMP2 Kokap and schools from the surrounding areas. I received a personal text message from one of the students stating that she really enjoyed the program and that she loves learning English. This is exactly why we run programs such as English Club and Adik AIYEP; to enthuse and encourage students to enjoy learning a second or even third language. This experience in Hargo Wilis has certainly encouraged me to continue working along with students and the AIYEP participants in order to make this program happen again.

I hope that our future endeavours in Jogjakarta will produce similar results,

Until then,

Sampai Jumpa and Seeya Later,

Candice

AIYEP and Sporty Sermo

Jack Greig

Ketika kami tiba di Desa Wisata Waduk Sermo, kami melihat olahraga yang popular di desa adalah sepak bola. Sayangnya, satu-satunya lapangan di daerah itu dalam keadaan rusak. Kesempatan yang bagus sebagai salah satu program pengembangan masyrakat.

Kami pun ikut dalam pertemuan dengan komunitas pemuda desa. Dalam pertemuan ini, kami menjelaskan rencana kami untuk mendanai sejumlah upgrade lapangan serta mengadakan kompetisi sepak bola. Para pemuda mendukung dengan penuh antusias.

Setelah konsultasi dengan koordinator pengembangan masyarakat, kami pun membeli sejumlah barang untuk meng-upgrade lapangan tersebut. Beberapa upgrade termasuk:

• 60 meter jaring untuk tepi lapangan
• Dua batang bambu dengan jaring gawang yang baru
• Kapur untuk garis lapangan
• Dua bola baru dan beberapa rompi
• Memperluaskan lapangan satu meter, dan restorasi lapangan.

Setelah selesai restorasi lapangan, kami mengadakan kompetisi sepak bola selama enam hari. Lima puluh pemain terlibat dalam delapan mainan, yang menarik sekitar 30-50 penonton setiap hari.

Netball terpilih sebagai aktivitas olahraga lain, karena itu populer di kalangan pemuda Australia. Hal yang terpenting adalah melibatkan pemudi lokal. AIYEP menyelenggarakan dua jam sesi Netball dengan 14 gadis yang berumur antara empat belas sampai enam belas tahun. Gadis-gadis itu belum pernah bermain netball, tapi mereka cepat sekali belajar.Hanya satu jam setengah pembinaan, mereka bermain antusias. Kami memberi tiga bola netball, rompi-rompi dan buku-buku aturan netball kepada guru Pendidikan Jasmani di sekolah itu sebagai hadiah.

Tim AIYEP mengikuti tiga prinsip utama dalam kegiatan olahraga: komunikasi, asyik dan inklusivitas. Kami ingin mengucapkan terima kasih masyarakat waduk Sermo dan mengucapkan terima kasih atas dukungan mereka dan persahabatan selama kami tinggal.

English Version:

When we arrived in Desa Wisata Waduk Sermo, it didn’t take long to discover that the dominant sport in the village was soccer. Unfortunately, the only field in the area was in a state of disrepair. A perfect oppurtunity for some community development!

A meeting with a village nominated youth community followed. In this meeting we shared our plans to fund a number of upgrades to the field and run a village-wide soccer competition after the upgrades were complete. The local youth enthusiastically offered their full support with the provision of labour and tools.

We continued to develop our plans over the following week and, in consultation with the community development coordinators, purchased a number of items to upgrade the existing facilities. Some of the upgrades included:

·         An extra sixty metres of field perimeter net

·         Two new sets of bamboo goals with goal net

·         Chalk for marking lines

·         Two new soccer balls and two sets of five playing bibs, and

·         The widening of the field by one metre, leveling and pitch restoration.

The soccer competition concluded successfully six days after the field upgrades. Around fifty players were involved in the eight game competition, which attracted around thirty to fifty spectators on each day of play.

Netball was selected as our second sporting activity because it is popular among Australian youth and importantly engaged local young women. The sport team organised a two hour afternoon coaching session with fourteen girls (two teams) aged between fourteen to sixteen from SMP 2 Kokap school. The girls had never been exposed to netball yet took to it quickly. After just an hour and a half of coaching, the girls were playing together enthusiastically; a testament to the Indonesian youths’ abundance of skill, flexibility and desire to learn. Three netballs, bibs and a collection of rules were left with the Physical Education teacher at the school as a legacy gift.

The AIYEP team followed three main principles in its sporting activities: communication, enjoyment and inclusiveness. By communicating early and consistently with local youths we fostered a strong sense of community between our two groups to ensure that they supported and took ownership of the changes that were implemented. We ran activities that were enjoyable so as to maximise participation and motivation. Finally, we sought to include all people that desired to play sport to strengthen our bond and reach a wider audience. We would like to thank the Waduk Sermo community and thank them for their support and friendship during our stay.

 

Sayonara, Australia

Asleep on our feet and struggling with 35kgs of luggage each (!!!), we were all exhilarated to hear the boarding call of GA719 – time for the next part of our adventure to begin!

Tertidur sambil berdiri dan berjuang dengan 35kg barang bawaan masing-masing, kami semua bersemangat mendengar panggilan dari penerbangan GA719 – Sekarang  petualangandimulai!

Counterparts

Today we were matched with a counterpart; a participant of the same gender but a different culture, to be our roommate and buddy for the Indonesian phase.

Acut – Shannon

Zikra – Trish

Vivi – Candy

Icha – Ash

Tia – Amy

Michelle – Tarryn

Sarah – Georgie

Ani – Katie

Sri – Jenny

Alex – Afif

Cordell – Yoga

Daniel – Aking

Jack – Alkaf

James – Baskoro

Luke – Adhit

Marty – Lukman

Tim – Ollid

Toby – Hambar

We then climbed on board a bus out to the Yarra Valley for wine and cheese tasting at Punt Road and De Bertoli – it’s a hard life. We sat in the shade at a park in Yarra Glen to eat our last lunch in Australia, expertly organized by Candy and Marty, before a sleepy bus trip back to St Mary’s. There was a last minute rush to get all the props and costumes on board, but we made it to the Consulate in time for our big performance.

It was an emotional night for the Indonesian participants and their host families, and also the Melbourne-based participants who said their goodbyes to family and friends.

Image

Georgie, Tarryn, Ash and Candy at Punt Road Winery

Hari ini kami dipasangkan dengan counterpart, seorang peserta dengan jenis kelamin yang sama tetapi budaya yang berbeda, untuk menjadi teman sekamar dan kawan selama fase Indonesia.

Kami kemudian naik bus ke Yarra Valley untuk mencicipi wine dan keju di ‘Punt Road’ dan ‘De Bertoli’. Kami duduk di sebuah taman di Yarra Glen untuk makan siang terakhir kami di Australia, yang diorganisir oleh Candy dan Marty, sebelum melanjutkan perjalanan bus yang membuat mengantuk kembali ke St Mary’s. Kami terburu-buru untuk mendapatkan semua perlengkapan pertunjukan dan kostum di bus, tetapi kami bisa tiba di Konsulat pada waktunya untuk penampilan kami.

Ini adalah malam yang emosional bagi para peserta Indonesia dan keluarga angkat mereka, dan juga keluarga para peserta yang berbasis di Melbourne yang menucapkan selamat jalan kepada saudara-saudara mereka.

64032_10152343600305714_1749469711_n

Final Preparations

Wednesday morning was dedicated to brushing up on the combined Indonesian and Australian cultural performance, which was an exciting thing to see for all of us.

Ollid, Jenny, Icha and Toby then headed off to the ABC studios in Melbourne for interviews with Asia Connect and Radio Australia, while the rest of the group got some free time for last minute shopping.

Wednesday night was our final rehearsal before our first combined performance at the Indonesian Consulate (and the first performance full-stop for the Australians), followed by a happy (and relieved) group hug.

Image

AIYEPers practice the Rapai Geleng (Radio Australia-Indonesia)

Rabu pagi itu didedikasikan untuk berlatih pertunjukkan gabungan kami; suatu kombinasi yang sangat menarik bagi kami.

Ollid, Jenny, Icha dan Toby kemudian berangkat ke studio ABC di Melbourne untuk wawancara dengan Asia Connect dan Radio Australia, sedangkan sisanya punya waktu luang untuk belanja terakhir.

Pada rabu malam ada latihan terakhir kami sebelum pertunjukan pertama di Konsulat Jendral Republik Indonesia (dan penampilan pertama untuk para peserta Australia), yang ditutup dengan pelukan besar.

Meeting His Excellency, the Governor of Victoria

After a tiring morning of rehearsing our cultural performance, we were off for an official visit with His Excellency the Governor of Victoria, Alex Chernov – such is the life of an AIYEPers. A musical tram ride was followed by handshaking and refreshments in the private drawing room overlooking the gardens – what a beautiful house!

Image

Tia speaks to the Governor.

 

Setelah pagi melelahkan yang dipakai untuk berlatih pertunjukan budaya, kami berangkat untuk kunjungan resmi dengan Gubernur Victoria, Alex Chernov. Sesudah perjalanan trem yang musikal, kami dijamu minum teh dalam ruang yang mempunyai pemandangan taman rumah dinas gubernur yang indah sekali.